Sabtu, 04 November 2017

 Kamu Bukan Pengandaian 
  
Aku ingin membuat kamu dalam pengandaian 

Seperti halnya debu pada api 

Aku ingin membuat kamu dalam pengandaian 

 Seperti halnya laut pada sungai 

Aku ingin membuat kamu dalam pengandain 

seperti halnya hujan pada terik 

Aku ingin membuat kamu dalam kenyataan 

Seperti halnya aku pada tuhan 



Kamu Bukan Pengandaian -Shfy

Kamis, 02 November 2017

Bulan di Bumi

Bulan Di Bumi 
 
Hawa sejuk mendera dua raga yang lelah 
Melewati pekat malam menerawang kasmaran
Rembulan menerang merona santun 
Dalam gelap pesona terindah untuk kamu yang tersantun 
Melewati kerlap kerlap bintang di aksara gelap 
Namun aku memandang kamu jauh dibawah bulan 
Tak perlu kamu hadir dalam waktu yang teralu lama 
Sepertiga malam kamu terlihat dalam indah yang aku sanjungkan
Makin malam aku tak ingin lagi berdusta  
Aku ingin jujur dalam pujian  
Bulan di bumi hanya kamu 
Terang sesaat indah selamanya
Seperti aku yang bersyukur akan hadir kamu dan bulan
Seperti kamu yang aku harap bersyukur akan hadir aku di bumi 
 
 
 
Bulan Di Bumi -Shfy
 

Sabtu, 14 Oktober 2017

Jumpa

Aku lusuh melambai tangan menuju ufuk 
Harus mengudara sampai menua 
Sudah lama terasa hangat ingatan perbincangan 
Masih manis secangkir teh tersedu hangat 
Obrolan singkat membincang kepergian 
Bercakap saling berbalas guyonan tak lupa rayuan 
Hirup secangkir teh memberhentikan perbincangan 
Suasana hening seperdetik yang diam 
Tatapan berbalas seakan ada paksa yang ketakutan 
Mulai ada rasa salah harus pergi 
Seketika ada air yang terdesak dari mata yang teduh 
Seakan hujan datang disaat terik yang hangat 
Ambil tisu untuk menutup air yang sakit 
Sudah 
Serasa kata itu mucul segampang untuk jumpa 
Namun setelah itu lebih baik berbalas tatapan 
Jangan paksa suasana ini terus menjadi haru 
Lebih baik merangkul kedua tangan 
Dengan tatap yang meyakinkan 
"jumpa" 


SHFY

janji antara senja dan fajar

JANJI ANTARA SENJA DAN FAJAR 

Ada ikatan yang saling mengikat 
Tertanam hingga senja dan fajar 
Seperti itulah ucapan janji kita pada bumi  
Kita mencintai kedua poros yang saling menyatu 
Kalau ada perselisihan haruskah kita meninggalkan fajar 
Kalau ada kesalahan haruskah kita meninggalkan senja 
Sedosakah kita mengikari perikatan yang tertulis lisan di atas bumi 
Andai salah satu dari kita berdosa 
Mungkin kita adalah dua orang yang salah yang mengikatkan diri 
Andai salah satu dari kita pergi tanpa pamit 
Mungkin salah satu dari kita sudah tak melihat fajar dan senja
Walau raga tak berwujud lagi
walau jiwa tak tergenggam dalam dekap lagi 
jangan haru dan marah pada janji 
Semua tak pernah berakhir 
sampai tuhan menenggelamkan fajar dan senja  


Shafy..

Kamis, 12 Oktober 2017

Naturalia

Naturallia

Satu kata yang melintas tepat selepas hujan mereda
Setelah akhir dari pemberhentian tempat kamu menepi 
Naturallia 
Memandang kamu membunuh jenuh 
Tenang semua itu sebuah pujian selepas hujan mereda 
Naturallia
Tertawa dengan kamu membius bosan 
Tenang semua itu sebuah pujian selepas hujan mereda 
Naturallia
Bercakap dengan kamu mengusik sepi 
Tenang semua itu sebuah pujian selepas  hujan mereda 
Naturallia 
Terakhir membaca raut dan wajah hati kamu 
Berat.
Lain waktu aku akan kembali

                                                         

Sabtu, 07 Oktober 2017

Transisi 

 Jujur saja kalau semua beraroma dan terlihat busuk, tanyakan mereka yang sibuk memindahkan raga  dan jiwa yang terlihat pucat dan ketakutan. 
 Seperti halnya berani dalam mempertontokan senyum didepan kaca berlian dinding kraton,lalu sembunyi ditebing megah merapi meninggalkan serpihan kaca pecah yang terbohongi. 
 Sebuah nista lahir meninggalkan jutaan mata yang terhibur pertunjukkan siklus tahunan . semua terlihat baik sampai jahat mulai memangil "temani aku disini , kau akan menikmatinya". 
 Tenang kami masih melihat itu tergolong perbuatan baik.karena itu manusiawi. 
bagi bagi kejahatan itu lumrah seperti membagikan bakpia keju yang manis penuh lumeran keju yang renyah tapi rapuh..
Hawa hawa transisi itu sejuk seperti semilir angin malam yang menusuk tulang yang membius mereka yang sedang membaca buku tentang pengkhianatan 
Perlahan jiwa jiwa ketakutan mulai tertawa ada teman yang menemani pergelaran theater paling menarik untuk mereka yang butuh.
Sampai di akhir perbincangan ada gelak tawa dan tepuk tangan riuh menyambut mereka yang menebar senyum , menghumbar janji. 
Kata terakhir untuk mereka yang rindu bahagia. selamatkan pada mereka ucapan palsu. 
 Ajak mereka meminum secangkir kopi biar memahami manis dan pahit.

Kamis, 05 Oktober 2017

Pembacaan Puisi (12)

Setelah pagi menyambut dengan terbit fajar 
Aku bergegas untuk pergi pertama kali 
Hari ini sabtu hari yang bersahabat untuk dinikmati 
Tepat suasana sekolah yang membuat bahagia yang majemuk 
Aku menginggat puisi pendek bernada sumbang 
Yang tak pernah tercium aroma manis yang menghasilkan romantis.
Senandung kata sangat pasif dan basi membuat mata tak terhibur dan hati tak tersentuh
Tepat siang itu rasa salah yang paling aku takutkan dan gugup
Dari belakang aku memandang dan ingin menyapa 
Namun lebih baik diam sambil memandang dalam tenang..
" Selamat puisi kamu bagus" kata najwa sambil menoleh kebelakang 
" Bagus ? kataku sambil terkejut"
" iya, puisi kamu tidak romantis.."
" bukanya itu tidak bagus ?.. jawabku"
" Tidak puisi kamu menenangkan seperti hujan yang turun kemarin"
" Seperti itu ?"
"iya kata kata dalam puisi kamu sunyi dan tidak berisik"
" bisa seperti itu?"
" bisa karena hanya aku yang membacanya"
" lalu puisi aku kamu simpan?"
" tidake5, puisi kamu hanya sementara jadi tidak akan kusimpan "
" lebih baik kamu simpan kalau kamu menyukainya " kata aku 
" tidak aku tidak akan menyimpanya sekalipun kamu memintanya"
"kenapa ?"
" semuanya sementara ada yang lebih bagus dari sementar yaitu selamanya" 
 

Selasa, 03 Oktober 2017

Jumat, 22 September 2017

Puisi pertama bertinta hitam (10)

Oktober kali ini aku mulai menulis 
Setelah dari sebuah perkenalan yang memakan waktu panjang 
Aku mengenalnya walau hanya sebatas nama dan pandangan 
Minggu kedua dibulan oktober yang masih bernuasa september 
Aku ingin menulis sebuah kata yang akan kurajut menjadi puisi..
akan kunamai puisi dengan "GERIMIS" 
tak perlu waktu lama aku memulainya 

Gerimis...

Pagi setelah malam yang menggelapkan
sebuah hari yang akan menjadi bahagia
kita melalui pertemuan yang sempit
Sajak ini lahir atas rasa yang kalah
Jujur aku sangat membenci gelap , tapi aku menyukai hujan
Aku bukan dilema melainkan aku tidak mau apatis
Kalaupun aku disuruh membuat pilihan, aku lebih menyukai gerimis
Dia datang sebagai pengingat sebelum aku menemukan hujan
Namun aku menemukan gerimis yang bukan lagi menjadi penginggat
Sekalipun aku sebut namanya pasti kamu akan kenal
Kalau kamu mau mengenalnya aku tidak keberatan, sama sekali..
Tak perlu waktu lama membahasnya karena aku takut dia bahagia
Salamkan aku pada dia gerimis yang kusebut namanya ," Kamu..."
Sekian rangkain singkatku pada hari ini,selamat membaca...
Sampai jumpa..
                                                                               Gerimis, 2014 Oktober 22 
                                                                                         

Kamis, 21 September 2017

Mahasiswa Almamater


  Hari ini Ahad penulisan akan sedikit berbeda dengan hari hari sebelumnya yang penuh romantika kasmaran dan juga pengkhianatan , iya dalam artian semua tulisan butuh sebuah catatan khusus yang harus berbau keras namun tetap menyinggung dengan kata yang lembut nan sopan 
 Tepat setelah para buruh terbangun dari pagi yang mulai menggeliat, mahasiswa sang pemikir cerdas masih berselimut dibalik kedingginan pagi yang baginya itu adalah kenikmatan, mungkin kuliahnya siang dan kita anggap itu adalah normal yang harus tidak terbiasakan.. jujur saat itu para penghisap uang rakyat tertawa karena akan ada generasi baru yang akan datang..

 Banyak para buruh dan tani yang mulai menggayunkan tangan kaki hingga jatuh keringat membasahi tangan, kepala ,kaki, sampai sekujur tubuhnya. Andai mereka memiliki kesempatan untuk memutar waktu mungkin mereka akan mengubah semua itu, namun percayalah ini bukan sebuah suratan takdir tapi sebuah anugrah..

Mahasiswa, ya betul dengan kedikdayaanya berdiri gagah seakan hafal semua hal yang dituliskan dan dingarkan, dengan bangga melepas kepulan asap namun patut di apresiasi karena mereka selalu berbicara sebuah perubahan yangmengarah pada ketidakadilan akan sebuah hal yang mencerdai kehidupan. percayalah banyak dari mereka yang membisukan atau terbisukan. 
 Almamatermu hanyalah sebuah pakaian mewah yang kau hargai mahal namun tak pernah kau kenal maknanya , statsus mahasiswa kamu hanya menambah catatan di sebuah lembaran keterangan penduduk yang kau sendiripun lupa.. sudahkah mahasiswa menjadi garda dari sebuah tatanan masyarakat ? ..

  Sampai pagi ini masih ada mereka yang sebenarnya berdiri namun tak pernah kita lihat, mereka punya suara mereka berfikir keras dan mereka berdedikasi ...namun maaf semua itu tidak dihargai.. banyak dari mereka menjadi cadangan yang menurut pandangan ada yang lebih baik..
 Menjadi cadangan di negeri sendiri itu adalah kebohongan dan sebuah pengkhiatan.. sehingga banyak dari mereka hanya menjadi penyebah almamaternya sendiri .

 Dan dalam paragraf akhir yang penuh dengan nuansa kritikan , harapan terbangun dalam sebuah usaha yang didlamnya ada proses dan doa,kalaupun semua pemikiran tadi hanya sebuah teori yang tidak dipraktekkan jangan salahkan kalo mereka yang berikir keras kecewa lalu menjadi pengkhianat bagi negeri sendiri. jadikan masa lalu menjadi penyesalan bukan hanya pelajaran.. 

Jumat, 15 September 2017

persimpangan

Tepat setelah lampu lampu meredup 
Setelah jalanan mensunyikan dirinya 
Aku mencoba berdiri di sebuah persimpangan 
Berdiri dengan dingin teramat di temani secercah cahaya bulan 
Aku diam..
Kalaupun harus memahami maksud diam ini 
jawban paling singkat tak pernah paham 
Sembari membandingkan kalau ini adalah pilihan 
Pikir cara paling mudah kalau ini dipaksakan
Namun pikir ternyata salah kalau hati tak terpakai 
Sebenarnya salah kalaupun terus aku membisu 
haruskah mengeluarkan kata sepatah atau mungkin dua patah ?
Andai isyarat cara terbaik untuk memilih 
Mungkin mulut aku tak perlu sesumbar menarik perhatian 
Tepat setelah aku mulai memahami pilihan 
Aku meninggalkan persimpangan dengan kemenagan 
untuk semua yang aku ragukan 
aku ucapkan selamat malam 

 Kamu Bukan Pengandaian     Aku ingin membuat kamu dalam pengandaian  Seperti halnya debu pada api  Aku ingin membuat kamu dala...